Global-Nusantara.id – Surabaya, 21 September 2026 – Sebuah pesan sederhana yang muncul dalam iklan di sebuah pusat perbelanjaan menjadi bahan perenungan bagi Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak., praktisi pajak dan hukum. Saat tengah menghabiskan waktu di mal, perhatiannya tertuju pada sebuah tayangan yang memuat pertanyaan mengenai hubungan antara keinginan manusia, niat baik, dan rencana Tuhan.
Dalam tayangan tersebut muncul kalimat:
“Are you following God’s plan? Or seeking for spiritual reasons to endorse what you are doing?”
Kalimat itu secara bebas dapat dimaknai, “Apakah kita benar-benar mengikuti rencana Tuhan, atau justru sedang mencari alasan spiritual untuk membenarkan apa yang ingin kita lakukan?”
Tak hanya itu, dalam tayangan yang sama juga terpampang pesan:
“Not all good intentions are proof that something is from God.”
Pesan tersebut mengandung makna bahwa tidak semua niat baik dengan sendirinya menjadi bukti bahwa suatu keputusan atau tindakan merupakan bagian dari kehendak Tuhan.
Bagi Eko Wahyu Pramono, kemunculan pesan tersebut terasa menarik karena ditemuinya bukan dalam forum keagamaan atau ruang khusus untuk melakukan refleksi. Kalimat itu justru muncul melalui sebuah iklan di tengah keramaian mal.
Sebagai praktisi pajak dan hukum, Eko menilai pesan tersebut juga relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang harus mengambil keputusan yang tidak selalu sederhana.
Menurut perenungannya, manusia kerap merasa bahwa sesuatu yang dilakukan dengan niat baik otomatis merupakan pilihan yang benar. Padahal, niat baik tetap perlu diuji melalui kejujuran terhadap diri sendiri, pertimbangan yang matang, serta kesiapan menerima kemungkinan bahwa jalan yang benar tidak selalu sama dengan jalan yang paling diinginkan.

Antara Mencari Kehendak Tuhan dan Membenarkan Keinginan
Pesan tersebut kemudian membawa Eko pada satu pertanyaan yang lebih dalam: apakah seseorang benar-benar sedang mencari kehendak Tuhan, atau sebenarnya sudah memiliki keinginan sendiri lalu mencari alasan spiritual agar keputusan tersebut terasa benar.
Menurut Eko, dua hal itu terlihat mirip, tetapi memiliki perbedaan yang mendasar.
Mencari kehendak Tuhan berarti membuka diri terhadap kemungkinan bahwa jawaban yang didapat bisa berbeda dari keinginan pribadi. Sementara mencari pembenaran berarti keputusan sebenarnya sudah ditentukan sejak awal, kemudian berbagai alasan hanya digunakan untuk menguatkannya.
“Kadang kita merasa niat kita sudah baik, lalu menganggap jalan yang kita pilih pasti benar. Padahal yang perlu direnungkan bukan hanya niatnya, tetapi juga apakah kita benar-benar siap menerima jika arah Tuhan ternyata berbeda dengan keinginan kita,” menjadi inti perenungan Eko atas pesan tersebut.
Niat Baik Tidak Selalu Menjawab Segalanya
Bagi Eko, kalimat “Not all good intentions are proof that something is from God” juga menjadi pengingat agar seseorang tidak menjadikan niat baik sebagai satu-satunya ukuran dalam mengambil keputusan.
Dalam dunia kerja, kehidupan pribadi, maupun aktivitas profesional, seseorang bisa memiliki tujuan yang tampak positif. Namun tetap ada kebutuhan untuk menilai proses, cara, dampak, dan alasan di balik keputusan tersebut.
Dalam konteks hukum dan pajak yang menjadi bidang profesinya, Eko juga melihat bahwa suatu tujuan yang dianggap baik tetap harus dijalankan melalui proses yang benar, bertanggung jawab, dan sesuai aturan.
Hal yang sama, menurut perenungannya, dapat diterapkan dalam kehidupan spiritual. Niat baik adalah sesuatu yang penting, tetapi seseorang tetap perlu memiliki kerendahan hati untuk mengevaluasi diri.
Perenungan Bisa Datang dari Tempat Tak Terduga
Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sebuah refleksi hidup tidak selalu datang melalui buku, ceramah, atau percakapan serius.
Di tengah hiruk-pikuk mal, aktivitas berbelanja, hiburan, serta lalu-lalang pengunjung, sebuah iklan justru mampu menghadirkan pertanyaan mendalam tentang arah kehidupan.
Bagi Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak., pesan itu menjadi pengingat bahwa terkadang manusia lebih mudah meminta Tuhan mendukung rencana yang telah dibuat daripada sungguh-sungguh bertanya apakah rencana tersebut memang sejalan dengan apa yang diyakininya sebagai kehendak Tuhan.
Pada akhirnya, perenungan tersebut bermuara pada satu pertanyaan:
“Jika ternyata rencana Tuhan berbeda dari apa yang kita inginkan, apakah kita tetap bersedia menerima dan menjalaninya?”
Bagi Eko, pertanyaan sederhana itu layak direnungkan siapa pun, terutama ketika sedang berada dalam proses mengambil keputusan penting dalam kehidupan.

