Global-Nusantara.id – Surabaya, 18 Juni 2026 – Kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM non-subsidi kembali menjadi perhatian masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Di lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya atau UINSA, perubahan harga BBM non-subsidi dinilai mulai berdampak pada pengeluaran harian mahasiswa, terutama bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas ke kampus.
Salah satu mahasiswa UINSA, Reyhan Alarico Stewart, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut. Menurutnya, biaya transportasi menjadi salah satu pengeluaran yang cukup terasa karena hampir setiap hari mahasiswa harus berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan maupun kegiatan akademik lainnya.
Beban Pengeluaran Transportasi Bertambah
Reyhan menyampaikan bahwa kenaikan harga BBM membuat mahasiswa harus lebih cermat dalam mengatur uang saku. Biaya bensin yang sebelumnya masih bisa disesuaikan dengan kebutuhan harian kini mulai terasa lebih berat, terutama bagi mahasiswa yang tinggal cukup jauh dari kampus.
“Dampaknya cukup terasa, terutama untuk mahasiswa yang setiap hari menggunakan kendaraan pribadi. Pengeluaran untuk bensin jadi bertambah, sementara kebutuhan kuliah juga banyak,” ujar Reyhan.
Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa harus mengatur ulang prioritas pengeluaran, mulai dari kebutuhan makan, fotokopi, kuota internet, hingga keperluan akademik lainnya.
Mahasiswa Mulai Berhemat
Untuk menyiasati kenaikan harga BBM, Reyhan mengatakan bahwa mahasiswa mulai mencari cara agar pengeluaran transportasi tidak terlalu membebani. Beberapa mahasiswa memilih berangkat bersama teman, mengurangi perjalanan yang tidak terlalu penting, atau lebih selektif dalam menggunakan kendaraan pribadi.
Meski begitu, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama bagi sebagian mahasiswa karena dinilai lebih praktis, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal kuliah padat atau tinggal di wilayah yang akses transportasi umumnya terbatas.
Dampak Tidak Langsung Juga Dirasakan
Selain berdampak pada biaya bensin, kenaikan harga BBM non-subsidi juga dikhawatirkan dapat memengaruhi harga kebutuhan lain. Apabila biaya distribusi barang dan jasa meningkat, mahasiswa berpotensi ikut merasakan dampaknya melalui naiknya harga makanan, kebutuhan kos, maupun layanan sehari-hari.
Reyhan berharap pemerintah dan pihak terkait dapat lebih memperhatikan dampak kebijakan harga energi terhadap mahasiswa. Menurutnya, meskipun BBM non-subsidi tidak digunakan oleh seluruh masyarakat, kenaikan harganya tetap berpengaruh bagi kelompok tertentu, termasuk mahasiswa.
Perlu Alternatif Transportasi Terjangkau
Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi pengingat bahwa perubahan harga energi dapat berdampak langsung pada kehidupan harian mahasiswa. Karena itu, diperlukan alternatif transportasi yang lebih terjangkau dan mudah diakses, terutama di sekitar kawasan kampus.
Dengan kondisi tersebut, mahasiswa dituntut semakin bijak dalam mengatur pengeluaran. Sementara itu, kebijakan yang memperhatikan daya beli masyarakat, termasuk mahasiswa, dinilai penting agar aktivitas pendidikan tetap berjalan tanpa beban biaya transportasi yang semakin berat.

