Global-Nusantara.id – Surabaya, 3 Agustus 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan masih berpeluang menguat pada pekan pertama Agustus 2026. Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan sentimen pasar.
Sejumlah analis menilai pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi nasional, kebijakan suku bunga global, nilai tukar rupiah, arus modal asing, serta perkembangan harga komoditas.
Data pertumbuhan ekonomi, inflasi, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, dan cadangan devisa diperkirakan menjadi perhatian pelaku pasar. Dari luar negeri, investor mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
Fundamental Ekonomi Perlu Diperkuat
Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua FERADI WPI DPC Sidoarjo, Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, menilai peluang penguatan IHSG dapat menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor.
Namun, menurutnya, kenaikan pasar saham tetap harus diikuti penguatan sektor riil dan perbaikan fundamental ekonomi nasional.
“Penguatan IHSG tentu menjadi sentimen positif. Namun, kenaikan indeks harus ditopang stabilitas nilai tukar rupiah, kepastian kebijakan, daya beli masyarakat, serta pertumbuhan sektor riil,” kata Yulianto.
Ia mengatakan kondisi pasar modal yang sehat tidak hanya diukur dari kenaikan indeks, tetapi juga dari transparansi emiten, tata kelola perusahaan, perlindungan investor, dan kontribusi dunia usaha terhadap penciptaan lapangan kerja.
Yulianto juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan pelaku usaha dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Investor membutuhkan kepastian kebijakan. Kebijakan fiskal, moneter, perpajakan, dan investasi harus berjalan konsisten agar kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.
Investor Ritel Diingatkan Berhati-hati
Yulianto meminta investor ritel tidak membeli saham hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi yang beredar di media sosial.
Menurutnya, setiap keputusan investasi perlu didasarkan pada analisis terhadap kinerja perusahaan, kondisi keuangan, prospek industri, dan profil risiko masing-masing investor.
“Rekomendasi saham bukan jaminan keuntungan. Investor harus memahami risiko dan tidak menggunakan dana yang dibutuhkan untuk keperluan pokok,” tegasnya.
Sejumlah saham dari sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan pertambangan diperkirakan tetap menjadi perhatian pasar pada awal Agustus. Meski demikian, proyeksi analis dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi dan pergerakan pasar.
Investor disarankan menerapkan manajemen risiko, melakukan diversifikasi, serta tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Disclaimer: Informasi dalam berita ini bersifat edukatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan dan risiko investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

