GlobalNusantara.id – Jakarta, 5 Juni 2026 – Pemerintah melalui Istana menanggapi tekanan yang kembali terjadi pada nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah tetap memantau perkembangan pasar keuangan dan menilai fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.
Prasetyo menyampaikan bahwa tekanan pada rupiah dan pasar saham tidak membuat pemerintah tinggal diam. Menurutnya, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta otoritas terkait terus melakukan koordinasi untuk memonitor kondisi pasar dan menyiapkan langkah yang diperlukan.
“Sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” kata Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Kamis malam.
Rupiah Masih Dalam Tekanan
Tekanan terhadap rupiah kembali menjadi perhatian setelah mata uang Garuda bergerak di sekitar level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia yang diperbarui pada 5 Juni 2026, kurs jual dolar AS tercatat Rp18.129,19 dan kurs beli Rp17.948,81.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan pasar valuta asing masih cukup kuat. Pelemahan rupiah umumnya berdampak pada meningkatnya biaya impor, tekanan terhadap harga barang tertentu, serta meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.
IHSG Ikut Tertekan
Tidak hanya rupiah, pasar saham juga mengalami tekanan. IHSG pada perdagangan Rabu tercatat melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07. Sementara itu, indeks LQ45 turun 30,28 poin atau 4,89 persen ke level 588,99.
Tekanan pada pasar saham mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Dalam situasi seperti ini, kepastian arah kebijakan pemerintah, stabilitas fiskal, serta respons otoritas moneter menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya juga menyampaikan keyakinan bahwa IHSG masih berpeluang kembali menguat karena ditopang fondasi ekonomi nasional. Ia menilai tekanan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi kekhawatiran jangka pendek.
Purbaya menyebut sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan kondisi yang relatif baik, termasuk inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan, yang masih berada dalam rentang target Bank Indonesia. Kementerian Keuangan juga mencatat penerimaan pajak mencapai Rp646,3 triliun per 30 April 2026, tumbuh 16,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar Menunggu Langkah Konkret
Meski pemerintah menegaskan fundamental ekonomi masih kuat, pasar tetap menunggu langkah konkret untuk meredam gejolak rupiah dan pasar saham. Koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan dinilai penting agar tekanan tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas.
Stabilitas rupiah dan IHSG tidak hanya penting bagi investor, tetapi juga bagi dunia usaha dan masyarakat. Pelemahan rupiah dapat berpengaruh terhadap harga bahan baku impor, biaya produksi, serta tekanan inflasi. Sementara pelemahan IHSG dapat memengaruhi sentimen investasi dan kepercayaan terhadap pasar modal nasional.
Dengan kondisi pasar yang masih bergerak dinamis, komunikasi kebijakan yang jelas dan respons cepat dari otoritas menjadi kunci untuk menjaga ekspektasi pelaku pasar.

