GlobalNusantara.id – Jakarta, 5 Juni 2026 — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Bank Indonesia (BI) memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 13.00 WIB, rupiah berada di level Rp18.041 per dolar AS. Posisi tersebut melemah Rp74,5 atau sekitar 0,41 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal. Salah satu pemicu utamanya adalah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menahan prospek perdamaian dan membuat harga minyak dunia tetap tinggi.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko inflasi global serta mendorong arus keluar modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri atau ULN,” kata Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
BI Pastikan Hadir di Pasar
Destry menegaskan BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara baik. Langkah tersebut dilakukan agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Destry.
BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market. Strategi ini ditujukan agar instrumen keuangan domestik tetap menarik bagi investor dan mampu menjaga aliran modal masuk.
Sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi, BI melakukan intervensi secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder.
Bank sentral turut memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Dorong Transaksi Mata Uang Lokal
Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI juga mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui skema Local Currency Transaction atau LCT. Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menekan risiko volatilitas nilai tukar.
Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Destry menyebut penggunaan skema LCT terus meningkat. Nilai transaksi melalui mekanisme tersebut pada April 2026 mencapai sekitar US$22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang 2025 yang tercatat sekitar US$25,7 miliar.
Meski rupiah melemah, BI menilai pergerakan mata uang domestik masih sejalan dengan tren pelemahan sejumlah mata uang regional. Secara year-to-date atau sejak awal tahun berjalan, rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen.
Sementara itu, ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap terjaga. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar US$146,2 miliar. Level tersebut dinilai masih memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

