Global-Nusantara.id – Surabaya, 10 Oktober 2026 – Kondisi pasar properti yang masih menghadapi tekanan mendorong pengembang menyesuaikan strategi dengan kemampuan daya beli masyarakat. Graha Agung Kencana Group menjadi salah satu pengembang yang menyiapkan hunian dengan harga lebih terjangkau di wilayah Surabaya dan Sidoarjo.
CEO Graha Agung Kencana Group, Nurhadi, mengatakan pola pembelian properti masyarakat saat ini telah mengalami perubahan. Konsumen dinilai semakin selektif dalam menentukan hunian, terutama dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan finansial.
Menurut Nurhadi, kondisi pasar saat ini berbeda dibandingkan periode sebelum pandemi Covid-19. Pada masa tersebut, penjualan properti masih dapat mencapai sekitar 20 hingga 30 unit dalam satu bulan.
Untuk menyesuaikan kondisi pasar, Graha Agung Kencana Group menyiapkan proyek rumah tapak dengan harga jual di bawah Rp1 miliar.
Bidik Pasar Rumah Terjangkau
Hunian yang disiapkan akan menggunakan ukuran lahan lebih kompak, mulai dari 4 x 10 meter, 5 x 10 meter hingga 6 x 10 meter.
Ukuran tersebut menjadi salah satu strategi pengembang untuk menjaga harga jual rumah agar tetap berada dalam jangkauan konsumen.
Nurhadi menilai kebutuhan masyarakat terhadap rumah tapak di kawasan Surabaya dan Sidoarjo masih cukup tinggi. Namun, keputusan pembelian saat ini semakin dipengaruhi kemampuan finansial konsumen.
Pasar hunian dengan harga di atas Rp1 miliar, khususnya pada kisaran Rp1,5 miliar ke atas, juga dinilai menghadapi tekanan permintaan.
Generasi Muda Terkendala Akses KPR
Selain harga rumah, mekanisme pembiayaan menjadi tantangan bagi sebagian calon konsumen.
Perubahan pola kerja membuat semakin banyak generasi muda bekerja sebagai pekerja lepas, pelaku usaha, maupun memperoleh pendapatan dari sektor digital.
Meski memiliki penghasilan yang dinilai cukup untuk membayar cicilan rumah, kelompok pekerja tersebut terkadang menghadapi kendala dalam memenuhi persyaratan administratif Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pengembang dan lembaga perbankan untuk menciptakan skema pembiayaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan pola penghasilan masyarakat, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Daya Beli Tetap Jadi Faktor Utama
Berbagai stimulus pemerintah bagi sektor properti, termasuk kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), dinilai mampu membantu mendorong pasar properti.
Namun, stimulus tersebut dinilai perlu diikuti penguatan daya beli masyarakat.
Kemampuan finansial, kepastian pendapatan serta kebutuhan terhadap hunian masih menjadi pertimbangan utama masyarakat sebelum memutuskan membeli rumah.
Di tengah kondisi tersebut, Graha Agung Kencana Group memilih menyesuaikan ukuran bangunan dan harga produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kehadiran rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar di Surabaya dan Sidoarjo diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian, khususnya bagi konsumen yang membutuhkan rumah tapak dengan kemampuan finansial terbatas.

