Global-Nusantara.id – Jakarta, 20 Oktober 2026 – Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia menggelar aksi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Dalam aksi tersebut, aktivis membentangkan baliho berukuran besar yang memuat sejumlah kritik terhadap persoalan lingkungan, krisis iklim, bencana, hingga tekanan biaya hidup masyarakat.
Aksi berlangsung di kawasan Tugu Selamat Datang yang menjadi salah satu landmark utama Jakarta. Berdasarkan dokumentasi yang beredar, sedikitnya tiga aktivis terlihat terlibat dalam pemasangan baliho di kawasan tersebut.
Editor Indonesia melaporkan bahwa sekitar pukul 06.00 WIB baliho belum terlihat terpasang. Namun sekitar pukul 07.00 WIB, baliho tersebut sudah tampak membentang di Bundaran HI. Sekitar pukul 08.21 WIB, dua baliho yang sebelumnya terpasang dilaporkan telah digulung kembali.
Soroti Bencana dan Kesulitan Hidup
Sejumlah pesan bernada kritik terpampang dalam aksi tersebut. Salah satu baliho memuat tulisan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah”.
Baliho lainnya menyampaikan seruan agar pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap persoalan perubahan iklim dan kondisi ekonomi masyarakat melalui pesan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”.
Selain itu, terlihat pula pesan mengenai pilihan energi yang lebih ramah lingkungan dengan tulisan “Orang Baik Memilih Energi Baik”.
Aktivis yang berada di sekitar Tugu Selamat Datang juga membawa pesan bertuliskan “Lawan Perusak Hutan” serta “Reformasi Dikorupsi”.
Aksi Greenpeace tersebut berlangsung bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Jawa Pos menyebut Greenpeace menggelar aksi damai tanpa kekerasan untuk mendesak pemerintah lebih serius menangani krisis iklim yang dinilai semakin memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Krisis Iklim Dikaitkan dengan Kehidupan Masyarakat
Isu yang diangkat dalam aksi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak ditempatkan hanya sebagai persoalan konservasi alam, tetapi juga dikaitkan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Greenpeace Indonesia selama ini menempatkan isu hutan, iklim dan energi, laut, kawasan perkotaan, serta pembangunan ekonomi alternatif sebagai sejumlah fokus kampanyenya.
Dalam laman kampanyenya, Greenpeace juga menghubungkan persoalan ekonomi masyarakat dengan kualitas lingkungan, termasuk meningkatnya biaya hidup, kualitas udara, dan ancaman akibat peristiwa cuaca ekstrem.
Pendekatan tersebut tercermin dalam pesan yang dibawa pada aksi Bundaran HI, ketika isu krisis iklim ditempatkan berdampingan dengan persoalan biaya hidup.
Perubahan iklim dinilai mempunyai dampak luas karena dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko cuaca ekstrem, gangguan terhadap produksi pangan, kerusakan ekosistem hingga bertambahnya beban sosial dan ekonomi masyarakat.
Seruan Peralihan ke Energi Lebih Bersih
Pesan mengenai energi juga menjadi salah satu bagian dalam aksi tersebut.
Tulisan “Orang Baik Memilih Energi Baik” dapat dibaca sebagai dorongan untuk mempercepat peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Isu transisi energi merupakan salah satu bidang kampanye Greenpeace Indonesia. Organisasi tersebut selama ini mendorong pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil dan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari penanganan krisis iklim.
Dengan membawa isu energi ke Bundaran HI, aktivis berupaya menjadikan persoalan yang selama ini banyak dibicarakan dalam forum kebijakan dan lingkungan itu sebagai pesan yang langsung terlihat masyarakat.
Kerusakan Hutan Ikut Disorot
Tidak hanya krisis iklim dan energi, aksi tersebut turut membawa isu perlindungan hutan.
Pesan “Lawan Perusak Hutan” menjadi salah satu tulisan yang terlihat dalam aksi.
Sorotan terhadap hutan sejalan dengan fokus Greenpeace Indonesia yang menempatkan perlindungan kawasan hutan dan keanekaragaman hayati sebagai salah satu agenda kampanye utama.
Sehari sebelum aksi Bundaran HI, Greenpeace Indonesia juga mempublikasikan seruan mengenai perlindungan keanekaragaman hayati dan hak masyarakat adat dalam konteks COP17 Konvensi Keanekaragaman Hayati.
Persoalan hutan mempunyai posisi penting dalam agenda lingkungan Indonesia karena berkaitan dengan keanekaragaman hayati, emisi karbon, kehidupan masyarakat di sekitar kawasan hutan serta risiko bencana ekologis.
Aparat Minta Baliho Diturunkan
Dalam rekaman yang beredar dari lokasi aksi, terdengar perintah melalui pengeras suara yang meminta aktivis menurunkan baliho.
Tidak lama setelah itu, baliho yang sebelumnya membentang di kawasan Bundaran HI dilaporkan telah digulung kembali.
Belum diketahui secara rinci apakah terdapat tindakan lebih lanjut terhadap para peserta aksi. Karena itu, informasi mengenai penanganan aktivis oleh aparat perlu menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun Greenpeace Indonesia.
Aksi tersebut berlangsung di kawasan yang menjadi salah satu pusat aktivitas dan lalu lintas Jakarta. Bundaran HI dan koridor Jalan Jenderal Sudirman–MH Thamrin juga termasuk kawasan yang mendapat perhatian aparat pada hari yang sama karena adanya sejumlah agenda penyampaian aspirasi di Jakarta Pusat.
Bertepatan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Tanggal 20 Oktober 2026 menandai dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sejak keduanya dilantik pada 20 Oktober 2024.
Momentum tersebut juga digunakan sejumlah kelompok mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan evaluasi terhadap jalannya pemerintahan.
Pada hari yang sama, kelompok mahasiswa dan masyarakat sipil juga menjadwalkan aksi di kawasan Tugu Proklamasi dan Tugu Tani, Jakarta Pusat.
Sejumlah tuntutan yang dibawa kelompok tersebut antara lain berkaitan dengan penanganan bencana ekologis, tata kelola ekonomi, kebebasan berpendapat, pemberantasan korupsi serta biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik.
Meski berlangsung pada momentum yang sama, aksi Greenpeace di Bundaran HI dan demonstrasi kelompok mahasiswa tersebut perlu dipandang sebagai kegiatan berbeda kecuali terdapat keterangan resmi yang menyatakan adanya koordinasi di antara keduanya.
Ruang Publik Jadi Medium Kritik
Pemilihan Bundaran HI membuat pesan dalam aksi Greenpeace mendapat perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu ruang publik paling dikenal di Jakarta.
Baliho berukuran besar memungkinkan pesan mengenai krisis iklim, kerusakan hutan dan biaya hidup terlihat langsung oleh pengguna jalan maupun masyarakat yang berada di kawasan pusat kota.
Aksi lingkungan melalui pemasangan spanduk maupun baliho di ruang publik bukan merupakan pendekatan baru bagi Greenpeace. Organisasi lingkungan tersebut kerap menggunakan aksi visual untuk menarik perhatian publik terhadap isu yang mereka kampanyekan.
Namun, setiap aksi di ruang publik juga bersinggungan dengan ketentuan mengenai keamanan, ketertiban, penggunaan fasilitas umum serta pengaturan lalu lintas.
Karena itu, respons aparat terhadap aksi maupun status para aktivis tetap memerlukan keterangan resmi untuk memastikan kronologi secara utuh.
Menunggu Penjelasan Resmi
Hingga laporan awal mengenai aksi di Bundaran HI beredar pada Selasa pagi, informasi terperinci mengenai teknis pelaksanaan aksi dan seluruh tuntutan yang disampaikan masih terbatas.
Keterangan resmi dari Greenpeace Indonesia maupun aparat keamanan diperlukan untuk melengkapi kronologi, termasuk mengenai proses pemasangan dan penurunan baliho serta penanganan peserta aksi.
Meski demikian, pesan yang terpampang di Bundaran HI menunjukkan fokus utama aksi: mendesak perhatian lebih besar terhadap krisis iklim, perlindungan hutan, penggunaan energi yang lebih bersih, serta dampak persoalan lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.
Aksi tersebut sekaligus menempatkan isu lingkungan di tengah momentum evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, ketika berbagai kelompok masyarakat menyampaikan pandangan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

