Global-Nusantara.id – Jakarta, 9 Agustus 2026 – Biaya transaksi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan secara cermat oleh investor maupun trader dalam aktivitas perdagangan di pasar modal. Persentasenya mungkin terlihat relatif kecil dalam satu transaksi, tetapi akumulasi biaya dapat mengurangi hasil trading, terutama bagi pelaku pasar yang melakukan transaksi dengan frekuensi tinggi.
Dalam perdagangan saham, hasil yang diperoleh investor tidak hanya ditentukan oleh selisih antara harga beli dan harga jual. Terdapat biaya transaksi yang harus diperhitungkan sehingga keuntungan kotor belum tentu mencerminkan keuntungan bersih yang benar-benar diterima.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi penjualan saham oleh individu maupun badan usaha dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 0,1 persen dari nilai bruto transaksi penjualan saham.
Selain pajak tersebut, investor juga berhadapan dengan biaya transaksi yang ditetapkan perusahaan sekuritas. Besarannya dapat berbeda sesuai kebijakan masing-masing penyedia layanan.
Frekuensi Trading Bisa Memperbesar Beban Biaya
Persoalan biaya menjadi semakin penting bagi trader yang menggunakan strategi perdagangan jangka pendek dengan frekuensi transaksi tinggi.
Setiap kali melakukan pembelian dan kemudian menjual saham, terdapat komponen biaya yang turut memengaruhi hasil akhir. Semakin tinggi frekuensi transaksi, semakin besar pula akumulasi biaya yang harus ditanggung.
Kondisi tersebut membuat trader tidak cukup hanya menghitung capital gain dari selisih harga.
Sebagai ilustrasi, suatu posisi trading dapat terlihat menghasilkan keuntungan berdasarkan pergerakan harga. Namun setelah biaya beli, biaya jual, dan komponen pajak diperhitungkan, keuntungan bersih yang diterima akan lebih kecil.
Hal itu menjadi lebih signifikan ketika trader menggunakan target keuntungan yang relatif tipis dalam setiap transaksi.
Karena itu, perhitungan break-even point atau titik impas menjadi penting sebelum trader mengambil posisi. Trader perlu mengetahui seberapa besar pergerakan harga yang dibutuhkan agar transaksi sudah mampu menutup biaya yang dikeluarkan.
Yulianto: Jangan Hanya Melihat Potensi Keuntungan
Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua FERADI WPI DPC Sidoarjo, Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, menilai pemahaman terhadap risiko merupakan bagian penting dalam mengambil keputusan di pasar modal.
Menurut Yulianto, investor tidak seharusnya hanya terfokus pada potensi keuntungan atau mengikuti pergerakan pasar dalam jangka pendek.
“Investasi harus didasarkan pada pemahaman terhadap instrumen yang dipilih. Setiap investor perlu memahami risiko dan memiliki strategi yang sesuai dengan tujuan investasinya,” ujar Yulianto.
Dalam konteks biaya transaksi, prinsip tersebut menjadi relevan karena keberhasilan trading tidak cukup diukur berdasarkan berapa kali transaksi menghasilkan keuntungan. Hasil akhirnya tetap harus dihitung berdasarkan keuntungan bersih setelah biaya dan risiko diperhitungkan.
Menurut Yulianto, keputusan investasi juga harus dilakukan secara rasional berdasarkan analisis, bukan sekadar mengikuti sentimen pasar.
“Pasar modal selalu bergerak mengikuti ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan. Oleh karena itu, investor harus tetap rasional dan melakukan analisis sebelum mengambil keputusan investasi, bukan hanya mengikuti sentimen jangka pendek pasar,” katanya.
Win Rate Tinggi Belum Tentu Menghasilkan Profit Optimal
Dalam trading, persentase kemenangan atau win rate juga bukan satu-satunya ukuran keberhasilan strategi.
Seorang trader dapat memiliki lebih banyak transaksi yang menghasilkan keuntungan dibandingkan transaksi yang rugi. Namun, apabila keuntungan rata-rata setiap posisi terlalu kecil, kerugian pada transaksi tertentu terlalu besar, atau biaya transaksi terlalu tinggi, hasil akhirnya belum tentu positif.
Karena itu, trader perlu memperhitungkan sejumlah variabel secara bersamaan, seperti risk-reward ratio, ukuran posisi, potensi kerugian, frekuensi transaksi hingga biaya yang dibebankan dalam setiap aktivitas perdagangan.
Dengan kata lain, strategi dengan tingkat akurasi tinggi sekalipun tidak otomatis menghasilkan keuntungan apabila pengelolaan risiko dan biaya transaksi diabaikan.
Pajak Juga Masuk Perhitungan
Aspek perpajakan juga menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari perhitungan transaksi saham.
BEI menyebut tarif PPh final atas transaksi penjualan saham sebesar 0,1 persen dari nilai bruto transaksi penjualan. Pajak tersebut dikenakan berdasarkan nilai transaksi penjualan saham, bukan semata-mata berdasarkan keuntungan yang diperoleh investor.
Karena itu, investor perlu memahami bahwa keuntungan yang terlihat pada aplikasi perdagangan belum tentu sama dengan hasil bersih setelah seluruh kewajiban transaksi diperhitungkan.
Dari perspektif fiskal, pemahaman tersebut juga penting agar pelaku pasar memiliki literasi mengenai kewajiban yang melekat pada instrumen investasi yang digunakan.
Keuntungan Bersih Jadi Ukuran yang Lebih Relevan
Pada akhirnya, performa trading lebih tepat dinilai berdasarkan keuntungan bersih atau net profit daripada hanya melihat keuntungan kotor dari pergerakan harga.
Trader perlu memasukkan seluruh komponen biaya ke dalam sistem perdagangan dan pengelolaan modalnya sejak awal.
Perhitungan tersebut menjadi semakin penting pada strategi dengan frekuensi transaksi tinggi karena biaya yang kecil dalam satu transaksi dapat terakumulasi menjadi jumlah yang lebih besar apabila transaksi dilakukan berulang kali.
Dengan memahami biaya, pajak, risiko, serta potensi hasil bersih, investor dan trader dapat mengambil keputusan secara lebih terukur dan tidak semata-mata mengejar keuntungan jangka pendek.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi serta bukan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham maupun instrumen keuangan tertentu. Keputusan investasi dan trading memiliki risiko dan menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

