Close Menu

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Perintis Bukan Pewaris, Karya Reyhan Alarico Stewart dan Muhammad Gabrial Syatiry

    October 29, 2026

    Emak-emak Berorasi di Depan Barikade Polisi saat Demo 28 Oktober

    October 28, 2026

    Rani Apresiasi Kajian Ultra Vires dalam Buku Kedua Eko Wahyu

    October 27, 2026
    Global NusantaraGlobal Nusantara
    • Hukum

      Emak-emak Berorasi di Depan Barikade Polisi saat Demo 28 Oktober

      October 28, 2026

      Rani Apresiasi Kajian Ultra Vires dalam Buku Kedua Eko Wahyu

      October 27, 2026

      Dua Buku Hukum Pajak Bahas Hak Wajib Pajak dan Kontrol terhadap Negara

      October 27, 2026

      Prof. Herlambang Soroti Krisis Penegakan Hukum dan Perlindungan HAM

      October 26, 2026

      Mahasiswa Jogja Turun ke Jalan, Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran

      October 21, 2026
    • Pajak
    • Sosial
    • Hukum
    • Politik
    • Investasi
    • Budaya
    • Teknologi
    Iklan
    Global NusantaraGlobal Nusantara
    Home » Dinda Meliana Soroti Liking Gap dan Tekanan Sosial Generasi Muda
    Lifestyle

    Dinda Meliana Soroti Liking Gap dan Tekanan Sosial Generasi Muda

    Priska AristantoBy Priska AristantoOctober 14, 2026
    Facebook Twitter WhatsApp Email
    Facebook Twitter WhatsApp

    Global-Nusantara.id – Jakarta, 14 Oktober 2026 – Pernah merasa orang lain tidak menyukai kita setelah sebuah percakapan? Merasa terlalu banyak bicara, khawatir perkataan dianggap membosankan, atau terus memikirkan kembali momen-momen kecil yang terasa canggung?

    Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dikenal dengan istilah liking gap, yaitu kondisi ketika seseorang cenderung memperkirakan bahwa orang lain menyukainya lebih sedikit dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya.

    Fenomena ini telah menjadi perhatian dalam berbagai penelitian psikologi mengenai kecenderungan seseorang memberikan penilaian yang lebih negatif terhadap dirinya sendiri setelah berinteraksi dengan orang lain.

    Liking gap diidentifikasi secara ilmiah melalui penelitian yang diterbitkan di jurnal Psychological Science pada 2018 oleh Erica Boothby bersama sejumlah peneliti dari Yale, Cornell, dan Harvard. Dalam berbagai bentuk interaksi sosial, orang kerap tidak menyadari bahwa kesan yang mereka tinggalkan kepada lawan bicara sebenarnya lebih positif daripada yang mereka bayangkan.

    Terlalu Sibuk Menilai Diri Sendiri

    Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah spotlight effect. Seseorang seolah merasa setiap kekeliruan, jeda dalam percakapan, atau gerak-geriknya diperhatikan secara detail oleh orang lain.

    Padahal, lawan bicara belum tentu memberikan perhatian sebesar itu. Mereka bahkan mungkin sedang memikirkan bagaimana dirinya sendiri terlihat selama percakapan berlangsung.

    Selain itu, keraguan terhadap diri sendiri dan bias negatif dapat membuat seseorang lebih mudah mengingat hal-hal yang dianggap salah daripada bagian positif dari sebuah interaksi.

    Inner critic atau suara kritis dalam diri juga dapat membuat momen canggung kecil terlihat jauh lebih besar daripada kenyataannya. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mendorong seseorang mengalami overthinking, kecemasan dalam bersosialisasi, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan.

    Jangan Biarkan Asumsi Mengendalikan Hubungan Sosial

    Menanggapi fenomena tersebut, Dinda Meliana, seorang karyawan swasta yang memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan mental, menilai liking gap cukup dekat dengan kehidupan masyarakat modern, khususnya generasi muda yang menghadapi tekanan sosial dan tingginya intensitas interaksi melalui media sosial.

    Menurut Dinda, seseorang terkadang terlalu cepat menyimpulkan bahwa dirinya tidak diterima hanya berdasarkan ekspresi, respons singkat, atau sikap orang lain yang sebenarnya belum tentu berkaitan dengannya.

    “Kadang kita pulang dari sebuah pertemuan lalu justru sibuk memikirkan, ‘Tadi aku salah ngomong enggak, ya? Dia tersinggung enggak? Kok jawabannya pendek?’ Padahal belum tentu orang itu memiliki penilaian negatif terhadap kita. Bisa saja dia sedang lelah atau mempunyai persoalan sendiri,” ujar Dinda.

    Ia menilai kebiasaan tersebut dapat menjadi beban ketika seseorang menjadikan asumsi pribadi sebagai sebuah kenyataan.

    “Menurut saya yang berbahaya adalah ketika asumsi itu terus dipelihara. Kita merasa tidak disukai, kemudian mulai menjauh. Padahal orang lain mungkin tidak pernah mengatakan bahwa mereka tidak menyukai kita,” katanya.

    Media Sosial Memperbesar Tekanan untuk Disukai

    Dinda juga melihat perkembangan media sosial membuat kebutuhan terhadap penerimaan sosial semakin kompleks.

    Jumlah tanda suka, komentar, balasan pesan, hingga siapa yang melihat unggahan terkadang dijadikan ukuran apakah seseorang diterima atau tidak dalam lingkungannya.

    “Sekarang respons orang bisa dihitung lewat angka. Ketika unggahan tidak banyak mendapatkan respons atau pesan tidak segera dibalas, sebagian orang bisa langsung bertanya apa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Padahal nilai diri seseorang tentu tidak ditentukan oleh angka di media sosial,” ujarnya.

    Menurutnya, masyarakat perlu mulai membangun kebiasaan untuk membedakan antara fakta dan asumsi.

    Ketika seseorang merasa tidak disukai, penting untuk bertanya kepada diri sendiri apakah terdapat fakta nyata yang menunjukkan penolakan tersebut atau pikiran itu hanya muncul karena ketakutan pribadi.

    Pentingnya Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

    Fenomena liking gap juga menunjukkan pentingnya self-compassion atau kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.

    Interaksi sosial tidak selalu berjalan sempurna. Seseorang dapat salah memilih kata, mengalami keheningan dalam percakapan, atau merasa gugup. Namun, hal itu tidak otomatis membuat orang lain memiliki penilaian buruk terhadap dirinya.

    Dinda menilai masyarakat perlu memahami bahwa tidak setiap orang harus menyukai kita, tetapi pada saat bersamaan jangan sampai seseorang merasa dirinya dibenci tanpa dasar yang jelas.

    “Kita memang tidak mungkin membuat semua orang menyukai kita. Tetapi jangan juga menghukum diri sendiri hanya karena menganggap seseorang tidak suka kepada kita. Kadang yang paling keras memberikan penilaian justru bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri,” tuturnya.

    Ia berharap pembicaraan mengenai kesehatan mental tidak hanya muncul ketika seseorang telah mengalami persoalan berat, tetapi juga menyentuh kebiasaan-kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

    “Peduli terhadap kesehatan mental bisa dimulai dari cara kita berbicara kepada diri sendiri. Kita perlu belajar bahwa satu percakapan yang terasa canggung bukan berarti kita gagal menjadi pribadi yang menyenangkan,” pungkas Dinda.

    Fenomena liking gap pada akhirnya mengingatkan bahwa persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri belum tentu sama dengan penilaian orang lain.

    Di tengah keinginan manusia untuk diterima, terkadang persoalannya bukan karena orang lain benar-benar tidak menyukai kita, melainkan karena pikiran telah lebih dahulu meyakinkan bahwa kita tidak cukup disukai.

    Dinda Meliana Kesehatan Mental Liking Gap
    Priska Aristanto

    Don't Miss
    Lifestyle

    Perintis Bukan Pewaris, Karya Reyhan Alarico Stewart dan Muhammad Gabrial Syatiry

    By Priska AristantoOctober 29, 2026

    Global-Nusantara.id – Surabaya, 29 Oktober 2026 – Semangat generasi muda untuk berkarya dan membangun kemandirian…

    Emak-emak Berorasi di Depan Barikade Polisi saat Demo 28 Oktober

    October 28, 2026

    Rani Apresiasi Kajian Ultra Vires dalam Buku Kedua Eko Wahyu

    October 27, 2026

    Dua Buku Hukum Pajak Bahas Hak Wajib Pajak dan Kontrol terhadap Negara

    October 27, 2026
    Our Picks

    Perintis Bukan Pewaris, Karya Reyhan Alarico Stewart dan Muhammad Gabrial Syatiry

    October 29, 2026

    Emak-emak Berorasi di Depan Barikade Polisi saat Demo 28 Oktober

    October 28, 2026

    Rani Apresiasi Kajian Ultra Vires dalam Buku Kedua Eko Wahyu

    October 27, 2026

    Dua Buku Hukum Pajak Bahas Hak Wajib Pajak dan Kontrol terhadap Negara

    October 27, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Tentang Kami

    PT MEDIA PRESENT NEWS
    NIB: 1302260029338
    AHU-007682.AH.01.30.Tahun 2026

    Our Picks
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp TikTok
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    • Tentang kami
    © 2026 Global Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.