Global-Nusantara.id – Surabaya, 6 September 2026 – Manajemen dalam sebuah organisasi maupun perusahaan tidak semestinya dipahami sebatas pembagian pekerjaan, pemberian perintah, ataupun penyusunan jadwal. Esensi manajemen justru terletak pada kemampuan organisasi menetapkan tujuan secara jelas, membangun perencanaan berbasis data, mengarahkan sumber daya manusia, serta melakukan pengendalian terhadap setiap penyimpangan yang muncul dalam proses pencapaian tujuan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua FERADI WPI DPC Sidoarjo, Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP.
Menurut Yulianto, prinsip paling fundamental dalam manajemen adalah adanya tujuan yang menjadi titik orientasi seluruh aktivitas organisasi. Tanpa tujuan yang jelas, aktivitas yang dilakukan berpotensi hanya menjadi rutinitas administratif yang tidak memiliki ukuran keberhasilan.
“Manajemen harus selalu dimulai dari tujuan. Setelah tujuan ditetapkan, baru organisasi menentukan siapa yang berperan, apa kontribusinya, bagaimana prosesnya, kapan harus selesai, dan indikator apa yang digunakan untuk memastikan tujuan tersebut benar-benar tercapai,” ujar Yulianto.
Pandangan tersebut sejalan dengan materi manajemen yang menempatkan tujuan dan organisasi sebagai dua elemen fundamental. Setiap individu yang bergabung dalam organisasi pada prinsipnya menerima tujuan organisasi tersebut dan berkewajiban memberikan kontribusi sesuai peran serta proses bisnis yang dijalankan.
Setiap Posisi Harus Memiliki Kontribusi Nyata
Yulianto menilai salah satu persoalan yang kerap muncul dalam organisasi adalah adanya jabatan dan aktivitas kerja yang tidak dihubungkan secara langsung dengan pencapaian tujuan.
Dalam perusahaan, misalnya, fungsi penjualan berperan meningkatkan pendapatan, bagian produksi menjaga kualitas sekaligus efisiensi biaya, sementara sumber daya manusia bertanggung jawab menyediakan tenaga kerja yang kompeten agar proses bisnis dapat berjalan optimal.
Karena itu, menurutnya, setiap pegawai harus memahami posisi dan kontribusinya dalam keseluruhan business process.
“Tidak cukup seseorang mengatakan bahwa dirinya sudah bekerja sesuai job description. Pertanyaan manajemennya adalah: pekerjaan tersebut menghasilkan kontribusi apa terhadap tujuan organisasi? Kalau kaitannya tidak bisa dijelaskan, berarti ada persoalan dalam desain proses atau dalam pemahaman perannya,” katanya.
Ia juga menyoroti prinsip “next process is our customer”, yakni setiap unit kerja harus memandang proses berikutnya sebagai pelanggan yang harus mendapatkan hasil kerja dengan kualitas, kuantitas, dan waktu yang tepat.
Kegagalan satu proses, kata dia, dapat berdampak langsung terhadap kualitas layanan kepada konsumen akhir.
Business Does Not Wait
Dalam dunia bisnis, ketepatan waktu juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari profesionalisme.
Yulianto menilai organisasi harus meninggalkan budaya kerja open-ended, seperti menjawab sebuah pekerjaan dengan frasa “secepatnya”, “sedang diusahakan”, atau “menunggu proses sebelumnya selesai” tanpa menetapkan tenggat yang jelas.
“Bisnis tidak menunggu. Konsumen juga tidak mau terus menunggu. Setiap pekerjaan harus memiliki target waktu, penanggung jawab, indikator penyelesaian, serta keterkaitannya dengan proses berikutnya,” tegasnya.
Menurutnya, fleksibilitas cara kerja tidak boleh diterjemahkan sebagai fleksibilitas terhadap hasil akhir.
Seseorang dapat memiliki fleksibilitas dalam mengatur cara bekerja, tetapi delivery kepada pelanggan atau organisasi tetap harus mengikuti target yang telah disepakati.
Perencanaan Bukan Sekadar Menyusun Jadwal
Yulianto juga menyoroti kesalahan umum dalam memahami konsep planning.
Menurutnya, perencanaan bukan sekadar membuat kalender kegiatan, timeline, ataupun Gantt chart. Perencanaan harus dimulai dari tujuan akhir, kemudian dipecah menjadi target-target yang lebih kecil dan terukur.
Setelah target ditetapkan, organisasi menentukan tindakan yang diperlukan untuk mencapainya.
“Kesalahan yang sering terjadi adalah organisasi langsung membuat daftar kegiatan tanpa mendefinisikan secara tegas apa tujuan setiap kegiatan. Akibatnya pekerjaan selesai secara administratif, tetapi outcome-nya belum tentu tercapai,” ungkapnya.
Perencanaan yang baik juga harus berbasis data.
Seluruh fakta yang relevan harus dihimpun terlebih dahulu agar risiko dan hambatan dapat diantisipasi sebelum proses berjalan.
“Rencana yang baik bukan sekadar daftar apa yang akan dilakukan. Rencana adalah instrumen untuk mengurangi ketidakpastian. Karena itu kualitas data sangat menentukan kualitas keputusan,” katanya.
Leadership Bukan Ekspresi Kekuasaan
Dalam aspek kepemimpinan, Yulianto mengingatkan bahwa jabatan manajerial tidak boleh dipandang sebagai legitimasi untuk sekadar memberikan perintah kepada bawahan.
Leadership harus diarahkan pada kemampuan mempengaruhi anggota organisasi agar bertindak sesuai tujuan, proses, dan standar yang telah ditetapkan.
“Pemimpin tidak boleh menjadikan organisasi sebagai ruang untuk mengekspresikan selera dan kekuasaannya. Leadership bukan tentang ‘apa yang saya mau’, tetapi tentang apa yang harus dilakukan organisasi untuk mencapai tujuan,” ujarnya.
Menurut Yulianto, apabila sebuah organisasi memiliki perencanaan, standar kerja, pembagian peran dan business process yang jelas, pimpinan seharusnya tidak perlu terus-menerus memberikan perintah secara mikro.
Setiap orang telah memahami apa yang harus dilakukan.
Pemimpin justru berfungsi memastikan orang memiliki kemampuan untuk melaksanakan pekerjaannya secara benar.
“Kalau bawahan tidak mampu melaksanakan pekerjaan, tugas pertama pemimpin bukan mengeluh, tetapi memastikan apakah sudah ada standar, sudah diberikan pelatihan, dan apakah instruksi kerjanya memang jelas,” katanya.
Kontrol Harus Berbasis Data
Yulianto menjelaskan, fungsi berikutnya yang tidak kalah penting adalah control atau pengendalian.
Kontrol pada dasarnya merupakan proses membandingkan kondisi aktual dengan kondisi ideal, target, standar, maupun rencana yang telah ditetapkan.
Karena itu, pengendalian tidak mungkin berjalan efektif apabila organisasi tidak mempunyai standar dan data.
“Tidak ada kontrol tanpa standar. Kita harus mengetahui lebih dahulu kondisi idealnya seperti apa, kemudian membandingkannya dengan kondisi aktual. Dari selisih itulah muncul gap yang harus diselesaikan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kontrol dalam organisasi modern tidak semata dilakukan dengan pimpinan turun langsung ke lapangan.
Sebagian besar fungsi pengendalian justru seharusnya dilakukan melalui pembacaan dan analisis data.
Dengan data, manajemen dapat mengetahui penyimpangan, tren, masalah operasional, hingga kemungkinan kegagalan yang membutuhkan intervensi.
Problem Solving dan Continuous Improvement
Menurut Yulianto, menemukan masalah bukan akhir dari proses manajemen.
Manajer harus memiliki kemauan serta kapasitas untuk menyelesaikan gap antara keadaan aktual dengan kondisi yang diharapkan.
Setelah satu masalah selesai dan standar terpenuhi, organisasi justru harus kembali mencari ruang perbaikan berikutnya.
Prinsip tersebut dikenal sebagai continuous improvement.
“Organisasi yang sehat tidak pernah berhenti hanya karena target hari ini sudah tercapai. Setelah standar tercapai, standar berikutnya harus ditingkatkan. Di situlah organisasi tumbuh,” kata Yulianto.
Ia menilai prinsip tersebut relevan tidak hanya bagi dunia usaha, tetapi juga organisasi profesi, lembaga pemerintahan, hingga institusi pelayanan publik.
Profesionalisme Harus Terukur
Yulianto menegaskan, praktik manajemen yang profesional membutuhkan keterhubungan yang jelas antara tujuan, planning, leadership, directing, control, problem solving, serta continuous improvement.
Tanpa keterhubungan tersebut, sebuah organisasi berpotensi dipenuhi aktivitas tetapi miskin hasil.
“Profesionalisme bukan diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat. Ukurannya adalah seberapa besar pekerjaannya memberikan kontribusi terhadap tujuan, apakah delivery dilakukan tepat waktu, apakah standar dipenuhi, dan apakah masalah yang muncul dapat diselesaikan secara sistematis,” pungkasnya.
Menurut Yulianto, organisasi yang mampu membangun budaya seperti itu akan memiliki daya saing lebih kuat karena keputusan tidak lagi bergantung pada intuisi, selera pimpinan, maupun rutinitas administratif, melainkan pada tujuan, standar, data, dan hasil yang terukur.

