Global-Nusantara.id – Surabaya, 31 Agustus 2026 – Pertemanan yang dekat tidak selalu hanya menghadirkan dukungan dan rasa nyaman. Dalam kondisi tertentu, hubungan sosial juga dapat memunculkan perbandingan, terutama ketika menyangkut pencapaian hidup, karier, kondisi ekonomi, hingga hubungan dengan pasangan.
Namun, munculnya rasa iri tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam psikologi, iri merupakan emosi manusia yang dapat dialami siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.
Karena itu, anggapan bahwa pertemanan perempuan identik dengan iri atau persaingan perlu ditempatkan secara hati-hati agar tidak berubah menjadi stereotip.
Social Comparison: Ketika Teman Menjadi Pembanding
Salah satu konsep psikologi yang dapat menjelaskan fenomena tersebut adalah Social Comparison Theory yang diperkenalkan psikolog Leon Festinger.
Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan mengevaluasi kemampuan, pencapaian, maupun posisi dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain.
Perbandingan dapat menjadi lebih kuat ketika seseorang membandingkan dirinya dengan individu yang dianggap memiliki banyak kesamaan, seperti usia, latar belakang pendidikan, lingkungan pekerjaan, status sosial, maupun perjalanan hidup.
Karena itu, keberhasilan seorang teman dekat terkadang memiliki dampak psikologis yang berbeda dibandingkan keberhasilan figur publik atau orang yang tidak memiliki hubungan personal.
Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa biasa saja melihat seorang selebritas memperoleh penghasilan tinggi. Namun, ketika teman satu angkatan memperoleh promosi, membangun bisnis yang sukses, atau mencapai kemapanan lebih dahulu, perbandingan terhadap kehidupan sendiri dapat menjadi lebih kuat.

Keberhasilan Orang Dekat Bisa Memengaruhi Penilaian Diri
Fenomena tersebut juga dapat dilihat melalui Self-Evaluation Maintenance Model yang dikembangkan psikolog Abraham Tesser.
Model ini menjelaskan bahwa pencapaian orang yang dekat dengan seseorang dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri, khususnya apabila pencapaian tersebut terjadi pada bidang yang dianggap penting bagi identitas dirinya.
Sebagai contoh, apabila dua sahabat sama-sama menempatkan karier sebagai bagian penting dalam kehidupan, keberhasilan salah satunya mencapai posisi tertentu dapat memunculkan perasaan tertinggal pada pihak lain.
Namun, respons setiap individu berbeda.
Sebagian orang dapat menjadikan keberhasilan temannya sebagai motivasi. Sebagian lainnya mungkin mengalami ketidaknyamanan, terutama ketika kondisi tersebut berhubungan dengan rasa tidak percaya diri atau ketidakpuasan terhadap kehidupan sendiri.
Pasangan Juga Bisa Menjadi Area Perbandingan Sosial
Selain karier dan ekonomi, hubungan romantis juga dapat menjadi salah satu bidang yang memunculkan perbandingan sosial.
Seseorang yang sedang menginginkan hubungan stabil, misalnya, dapat melakukan evaluasi terhadap kehidupannya ketika melihat teman dekat mendapatkan pasangan yang dianggap suportif, mapan, atau memiliki kualitas yang dinilai positif.
Dalam psikologi sosial, kondisi seperti ini dapat berkaitan dengan konsep intrasexual competition, yaitu kompetisi antarsesama individu yang dalam konteks tertentu dapat berkaitan dengan daya tarik, reputasi, status sosial, dan pasangan.
Meski demikian, konsep tersebut tidak berarti seluruh hubungan pertemanan merupakan bentuk persaingan.
Faktor kepribadian, kondisi psikologis, kualitas hubungan sosial, lingkungan, serta tingkat kepuasan seseorang terhadap kehidupannya memiliki peran yang jauh lebih kompleks.
Iri Tidak Selalu Berarti Ingin Menjatuhkan
Psikologi juga membedakan bentuk rasa iri berdasarkan respons yang muncul setelah seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain.
Salah satunya dikenal sebagai benign envy, yakni rasa iri yang dapat memotivasi seseorang untuk meningkatkan diri.
Misalnya, seseorang melihat temannya mendapatkan promosi kemudian terdorong meningkatkan kompetensi atau bekerja lebih baik.
Sementara itu, terdapat istilah malicious envy, yakni kondisi ketika rasa iri dapat disertai keinginan untuk menurunkan posisi atau nilai orang yang menjadi objek perbandingan.
Dalam kehidupan sosial, perilakunya dapat berupa meremehkan keberhasilan orang lain, memberikan komentar negatif secara berulang, atau mencoba mengurangi nilai dari pencapaian seseorang.
Meski demikian, satu komentar atau perubahan sikap tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang memiliki rasa iri atau niat buruk. Penilaian terhadap kondisi psikologis seseorang membutuhkan konteks yang lebih luas.
Mengenal Relational Aggression dalam Pertemanan
Konsep lain yang sering dibahas dalam kajian hubungan sosial adalah relational aggression atau agresi relasional.
Agresi jenis ini dilakukan melalui hubungan interpersonal dan tidak selalu muncul dalam bentuk konfrontasi langsung.
Contohnya dapat berupa pengucilan dari kelompok, penyebaran gosip, upaya merusak reputasi, atau manipulasi hubungan sosial.
Sejumlah penelitian psikologi perkembangan pernah menemukan perbedaan pola agresi antara kelompok laki-laki dan perempuan dalam konteks tertentu.
Namun, perilaku tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai karakter perempuan. Agresi relasional dapat dilakukan siapa saja dan sangat dipengaruhi lingkungan, usia, pola hubungan, serta karakter individu.
Jangan Mudah Memberi Label “Teman Iri”
Munculnya jarak dalam hubungan pertemanan tidak selalu berarti seseorang sedang iri.
Teman yang menjadi lebih pendiam setelah mendengar kabar keberhasilan seseorang, misalnya, bisa saja sedang menghadapi masalah pribadi, tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, atau kondisi lain yang tidak berkaitan dengan pencapaian temannya.
Demikian pula kritik terhadap pasangan atau keputusan hidup seseorang tidak otomatis merupakan bentuk kedengkian.
Kritik dapat bersifat konstruktif apabila disampaikan dengan alasan yang jelas dan bertujuan melindungi atau memberikan perspektif berbeda.
Karena itu, memberikan label seperti “iri”, “dengki”, atau “toxic” tanpa mengetahui konteks secara utuh berisiko menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan sosial.
Pertemanan Sehat Ditentukan Kematangan Emosional
Pada akhirnya, kualitas sebuah pertemanan lebih dipengaruhi oleh kematangan emosional daripada jenis kelamin.
Pertemanan yang sehat tidak harus berarti kedua pihak tidak pernah merasa iri atau melakukan perbandingan.
Rasa iri dapat muncul secara alami ketika seseorang melihat orang dekat memperoleh sesuatu yang juga diinginkannya.
Perbedaannya terletak pada bagaimana emosi tersebut dikelola.
Seseorang yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik masih dapat mengakui perasaan tidak nyaman sekaligus tetap memberikan dukungan terhadap keberhasilan temannya.
Sebaliknya, apabila perbandingan terus-menerus berubah menjadi kebiasaan merendahkan, mempermalukan, menyebarkan informasi pribadi, atau secara konsisten mencoba menjatuhkan, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa hubungan perlu dievaluasi.
Dengan demikian, persoalannya bukan apakah perempuan lebih rentan iri dalam pertemanan, melainkan bagaimana setiap individu mengelola social comparison, harga diri, rasa aman terhadap diri sendiri, dan perubahan status dalam lingkaran sosialnya.

