Global-Nusantara.id – Yogyakarta, 29 Juli 2026 – Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut tercatat meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 2 kilometer pada Selasa malam (28/7/2026).
Berdasarkan laporan pemantauan aktivitas Gunung Merapi, kejadian awan panas guguran berlangsung pada pukul 21.26 WIB. Luncuran material vulkanik tersebut bergerak menuju sektor selatan, tepatnya mengarah ke kawasan hulu Kali Boyong.
Dalam catatan pengamatan, awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo maksimum 53,42 milimeter dengan durasi selama kurang lebih 123 detik. Fenomena ini menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih mengalami dinamika dan perlu terus dipantau oleh pihak berwenang.
Status Gunung Merapi Masih Level III Siaga
Meski terjadi luncuran awan panas guguran, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Pihak berwenang mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana.
Potensi bahaya utama yang masih mengancam meliputi awan panas guguran, guguran lava, serta lontaran material vulkanik. Bahaya tersebut terutama berpotensi terjadi di jalur sungai yang berhulu dari puncak Merapi karena menjadi jalur alami pergerakan material vulkanik.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan diminta untuk selalu memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan tidak melakukan aktivitas yang mendekati zona bahaya.
Potensi Awan Panas dan Guguran Lava Masih Mengancam
Gunung Merapi memiliki karakteristik berupa pertumbuhan kubah lava yang dapat mengalami ketidakstabilan. Ketika bagian kubah lava mengalami longsoran, material panas dapat bergerak turun dalam bentuk awan panas guguran.
Awan panas guguran memiliki tingkat bahaya tinggi karena bergerak cepat membawa campuran material vulkanik bersuhu tinggi. Wilayah yang berada di sepanjang alur sungai yang berhulu di Merapi menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
Selain itu, material vulkanik hasil aktivitas Merapi juga berpotensi terbawa oleh aliran sungai ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir lahar di wilayah sekitar lereng gunung.
Warga Diminta Tidak Mendekati Kawasan Rawan
Pemerintah dan petugas pemantauan Gunung Merapi mengimbau masyarakat, wisatawan, serta pendaki untuk mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.
Aktivitas di sekitar puncak maupun wilayah yang masuk dalam radius bahaya harus dihindari demi mencegah risiko korban. Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengacu pada informasi resmi dari lembaga terkait.
Kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi aktivitas Gunung Merapi yang secara historis termasuk salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Pemantauan Aktivitas Terus Dilakukan
Hingga saat ini, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi masih terus dilakukan oleh instansi terkait. Parameter kegempaan, deformasi, serta aktivitas visual gunung api menjadi indikator utama dalam menentukan perkembangan kondisi Merapi.
Pemerintah daerah bersama lembaga kebencanaan juga terus melakukan koordinasi untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi terbaru apabila terjadi perubahan status maupun peningkatan potensi bahaya.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi diimbau tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan deras di wilayah lereng gunung yang dapat memicu pergerakan material vulkanik.

