Global-Nusantara.id – Surabaya, 22 Juli 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan tren positif dengan memperpanjang penguatan selama sembilan hari perdagangan berturut-turut. Di tengah reli pasar saham tersebut, investor asing melakukan aksi selektif dengan memburu saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), sementara PT Astra International Tbk (ASII) justru menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas.
Penguatan IHSG menunjukkan meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Pada perdagangan terakhir, IHSG tercatat menguat hingga 1,74 persen dan berada di level 6.340,02, sekaligus memperpanjang tren kenaikan yang telah berlangsung selama sembilan hari perdagangan.
Namun, penguatan indeks tidak serta-merta membuat seluruh saham mengalami kenaikan yang sama. Pergerakan dana asing menunjukkan adanya strategi rotasi investasi, di mana investor global mulai mengalihkan portofolio menuju sektor yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan lebih besar.
Asing Membaca Peluang Sektor Komoditas
Saham ANTM menjadi salah satu emiten yang mendapatkan perhatian investor asing. Minat terhadap saham sektor pertambangan tersebut tidak terlepas dari prospek komoditas mineral strategis serta potensi pertumbuhan industri berbasis hilirisasi.
Sementara itu, saham ASII mengalami tekanan akibat aksi jual investor asing. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor global tidak hanya melihat besarnya kapitalisasi pasar, tetapi juga mempertimbangkan prospek pertumbuhan, sentimen industri, serta potensi keuntungan ke depan.
Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal & Moneter KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua FERADI WPI DPC Sidoarjo, Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, menilai fenomena tersebut merupakan dinamika normal dalam pasar modal yang menunjukkan investor sedang melakukan penyesuaian strategi.
Menurut Yulianto, kenaikan IHSG perlu disikapi secara objektif karena pasar saham tidak hanya bergerak berdasarkan sentimen jangka pendek, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan.
“Penguatan IHSG menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia mulai meningkat. Namun, investor tetap harus melihat fundamental perusahaan, bukan hanya mengikuti tren kenaikan harga saham,” ujar Yulianto.
Kepastian Hukum dan Regulasi Jadi Faktor Kepercayaan Investor
Yulianto menjelaskan, selain faktor ekonomi, investor juga mempertimbangkan aspek kepastian hukum dan stabilitas kebijakan pemerintah sebelum menanamkan modal.
Menurutnya, pasar modal memiliki hubungan erat dengan iklim investasi secara keseluruhan. Kebijakan yang konsisten, transparan, dan memberikan kepastian akan meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing.
“Investor membutuhkan kepastian hukum. Ketika regulasi berjalan konsisten dan memberikan perlindungan terhadap kegiatan usaha, maka tingkat kepercayaan pasar akan semakin kuat. Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan dapat meningkatkan persepsi risiko investasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan saham berbasis komoditas seperti ANTM juga harus menjadi momentum untuk mendorong nilai tambah ekonomi nasional melalui hilirisasi.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan memperkuat industri nasional,” katanya.
Reli Panjang Tetap Perlu Diwaspadai
Meski tren IHSG saat ini menunjukkan sentimen positif, Yulianto mengingatkan investor agar tetap memperhatikan potensi koreksi pasar.
Menurutnya, reli panjang sering kali diikuti aksi ambil untung (profit taking) sehingga investor perlu menerapkan strategi yang disiplin.
“Pasar modal bukan hanya tentang mengejar keuntungan cepat, tetapi bagaimana mengambil keputusan investasi secara rasional. Diversifikasi dan pemahaman terhadap risiko menjadi hal penting bagi investor,” pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar akan terus mencermati sejumlah faktor, mulai dari kebijakan ekonomi pemerintah, arah suku bunga, arus modal asing, hingga kinerja emiten sebagai penentu arah IHSG berikutnya.

