Close Menu

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    11 Bulan Menunggu, Istri M. Umar Soroti Lambannya Penanganan Laporan Dugaan Oknum Jaksa

    July 25, 2026

    PMK 44/2026 Digugat? IWPI Persiapkan Uji Materi Aturan Kuasa Wajib Pajak

    July 24, 2026

    Lokasari, Panggung yang Pernah Menghidupkan Seni Jakarta Awal Abad ke-20

    July 24, 2026
    Global NusantaraGlobal Nusantara
    • Hukum

      11 Bulan Menunggu, Istri M. Umar Soroti Lambannya Penanganan Laporan Dugaan Oknum Jaksa

      July 25, 2026

      PMK 44/2026 Digugat? IWPI Persiapkan Uji Materi Aturan Kuasa Wajib Pajak

      July 24, 2026

      FERADI WPI Gandeng STIH Litigasi Siapkan Generasi Advokat Profesional dan Beretika

      July 24, 2026

      Eksepsi Dikabulkan, Kasus Dokter Tifa Terkait Ijazah Jokowi Berakhir

      July 23, 2026

      Ketum FERADI WPI Donny Andretti Perkuat Kapasitas Anggota Melalui Program Beasiswa Pendidikan

      July 22, 2026
    • Pajak
    • Sosial
    • Hukum
    • Politik
    • Investasi
    • Budaya
    • Teknologi
    Iklan
    Global NusantaraGlobal Nusantara
    Home » Nietzsche Pernah Berkata “Tuhan Telah Mati”, Apa Maksud Sebenarnya?
    Budaya

    Nietzsche Pernah Berkata “Tuhan Telah Mati”, Apa Maksud Sebenarnya?

    Priska AristantoBy Priska AristantoJuly 15, 2026
    Facebook Twitter WhatsApp Email
    Facebook Twitter WhatsApp

    Nietzsche dan “Tuhan Telah Mati”: Bukan Kematian Tuhan, tetapi Krisis Makna Manusia Modern

    Global-Nusantara.id – Jakarta, 15 Juli 2026 – Ungkapan filsuf Jerman Friedrich Nietzsche, “Tuhan telah mati” (God is Dead), kembali menjadi perbincangan publik setelah banyak dikutip dalam berbagai diskusi filsafat di ruang digital. Pernyataan kontroversial tersebut sering disalahpahami sebagai klaim bahwa Nietzsche sedang menyatakan Tuhan benar-benar tidak ada.

    Padahal, dalam konteks filsafat Nietzsche, ungkapan tersebut bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan sebuah diagnosis kebudayaan mengenai perubahan besar dalam cara manusia modern memahami makna, moralitas, dan kebenaran. Gagasan ini muncul dalam karya Nietzsche The Gay Science (1882), terutama melalui kisah “orang gila” yang menyatakan bahwa manusia telah “membunuh” Tuhan, yang menggambarkan runtuhnya otoritas nilai lama dalam masyarakat Barat.

    Menurut Nietzsche, selama berabad-abad agama menjadi sumber utama dalam menjawab pertanyaan mendasar manusia: mengapa manusia hidup, apa yang dianggap baik dan buruk, serta ke mana arah kehidupan manusia. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan, rasionalisme, dan modernitas membuat sebagian masyarakat mulai mempertanyakan fondasi tersebut.

    Persoalannya, menurut Nietzsche, bukan hanya hilangnya sebuah keyakinan, tetapi munculnya kekosongan nilai ketika manusia belum menemukan dasar baru yang mampu menggantikan peran nilai lama. Kondisi inilah yang kemudian berkaitan dengan konsep nihilisme, yaitu keadaan ketika nilai-nilai tertinggi kehilangan kekuatan dan manusia mengalami krisis makna.

    Manusia Tidak Berhenti Menyembah, Hanya Mengganti Objeknya

    Dalam perkembangan masyarakat modern, manusia tidak selalu meninggalkan kebutuhan untuk memiliki sesuatu yang dianggap paling bernilai. Namun, objek yang menjadi pusat orientasi dapat berubah.

    Uang dapat menjadi ukuran keberhasilan. Popularitas menjadi ukuran harga diri. Ideologi dapat dianggap sebagai kebenaran mutlak. Teknologi dapat diperlakukan sebagai simbol kemajuan tanpa batas.

    Fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia tetap mencari sesuatu yang menjadi pusat makna dalam kehidupannya. Perbedaannya, pusat tersebut tidak selalu berbentuk agama atau keyakinan metafisik, tetapi dapat berupa kekuasaan, materi, pengakuan sosial, maupun identitas kelompok.

    Tantangan Terbesar Manusia adalah Kehilangan Arah Nilai

    Menanggapi fenomena tersebut, Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak. menyampaikan bahwa pemikiran Nietzsche sebaiknya dipahami sebagai kritik terhadap manusia yang kehilangan kemampuan melakukan refleksi terhadap nilai yang diyakininya.

    “Pesan penting dari Nietzsche bukan sekadar mempertanyakan keberadaan Tuhan, tetapi mempertanyakan apa yang menjadi dasar manusia dalam menentukan nilai hidupnya. Ketika manusia kehilangan fondasi moral, tantangan terbesarnya adalah apakah ia mampu menciptakan kehidupan yang bermakna atau justru mengganti satu bentuk ketundukan dengan bentuk lainnya,” ujar Eko Wahyu Pramono.

    Menurutnya, masyarakat modern menghadapi tantangan baru karena kemajuan teknologi dan informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan moral.

    “Manusia bisa memiliki teknologi yang semakin maju, tetapi tetap menghadapi persoalan klasik: keserakahan, pencarian pengakuan, konflik kepentingan, dan kehilangan tujuan hidup. Kemajuan material tidak otomatis menghasilkan manusia yang lebih bijaksana,” tambahnya.

    Kebebasan Memerlukan Tanggung Jawab

    Salah satu pesan utama dari pemikiran Nietzsche adalah bahwa manusia tidak cukup hanya menghancurkan nilai lama, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap nilai yang dipilihnya.

    Kebebasan bukan berarti manusia dapat menentukan apa saja tanpa batas, melainkan kemampuan untuk menyusun prinsip hidup secara sadar dan bertanggung jawab.

    Menurut Eko, tantangan manusia saat ini adalah membangun keseimbangan antara kemajuan rasional, perkembangan teknologi, dan nilai kemanusiaan.

    “Manusia modern perlu memiliki kemampuan berpikir kritis. Jangan sampai seseorang hanya berpindah dari satu bentuk pengaruh ke pengaruh lain tanpa pernah benar-benar memahami alasan di balik keyakinannya,” jelasnya.

    Relevansi Nietzsche di Era Digital

    Lebih dari satu abad setelah Nietzsche menyampaikan gagasannya, pertanyaan mengenai makna hidup tetap relevan. Era digital menghadirkan bentuk baru pencarian pengakuan melalui jumlah pengikut, popularitas, dan validasi sosial.

    Karena itu, gagasan “Tuhan telah mati” dapat dipahami bukan sebagai ajakan meninggalkan nilai, tetapi sebagai peringatan agar manusia tidak hidup secara otomatis mengikuti nilai yang diberikan lingkungan.

    Pada akhirnya, pertanyaan terbesar Nietzsche bukan hanya tentang Tuhan, tetapi tentang manusia itu sendiri: ketika fondasi lama berubah, apakah manusia mampu menjadi pencipta nilai yang bertanggung jawab atau hanya mencari “tuhan-tuhan baru” dalam bentuk yang berbeda.

     

    Filsafat Nietzsche Tuhan Telah Mati
    Priska Aristanto

    Don't Miss
    Ekonomi

    11 Bulan Menunggu, Istri M. Umar Soroti Lambannya Penanganan Laporan Dugaan Oknum Jaksa

    By Priska AristantoJuly 25, 2026

    Global-Nusantara.id – Lampung, 25 Juli 2026 – Siti Khotijah, istri M. Umar bin Abu Tholib,…

    PMK 44/2026 Digugat? IWPI Persiapkan Uji Materi Aturan Kuasa Wajib Pajak

    July 24, 2026

    Lokasari, Panggung yang Pernah Menghidupkan Seni Jakarta Awal Abad ke-20

    July 24, 2026

    FERADI WPI Gandeng STIH Litigasi Siapkan Generasi Advokat Profesional dan Beretika

    July 24, 2026
    Our Picks

    11 Bulan Menunggu, Istri M. Umar Soroti Lambannya Penanganan Laporan Dugaan Oknum Jaksa

    July 25, 2026

    PMK 44/2026 Digugat? IWPI Persiapkan Uji Materi Aturan Kuasa Wajib Pajak

    July 24, 2026

    Lokasari, Panggung yang Pernah Menghidupkan Seni Jakarta Awal Abad ke-20

    July 24, 2026

    FERADI WPI Gandeng STIH Litigasi Siapkan Generasi Advokat Profesional dan Beretika

    July 24, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Tentang Kami

    PT MEDIA PRESENT NEWS
    NIB: 1302260029338
    AHU-007682.AH.01.30.Tahun 2026

    Our Picks
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp TikTok
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    • Tentang kami
    © 2026 Global Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.